Palembang — Halaman SMK Aisyiyah Palembang di Jalan Kolonel H. Burlian Nomor 1032 Kilometer 7,5, Kelurahan Karya Baru, Kecamatan Alang-Alang Lebar, berubah menjadi arena pertandingan yang ramai pada rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia. Sekolah swasta berakreditasi A itu menggelar Pekan Lomba 17-an yang memadukan olahraga tradisional, tantangan keahlian jurusan, dan semangat kemerdekaan. Puncak acara adalah Lomba Estafet Garuda Code, cabang yang paling ditunggu siswa. Juara 1 direbut Faris Dazqi dari jurusan Rekayasa Perangkat Lunak, juara 2 Aulia Putri Ramadhani dari Farmasi Klinis dan Komunitas, serta juara 3 Muhammad Rizky Pratama dari Teknik Kimia Industri.

Lomba yang Bukan Sekadar Balap Karung

Berbeda dari lomba 17-an yang hanya mengulang makan kerupuk dan balap karung, panitia OSIS dan guru produktif merancang Estafet Garuda Code sebagai lintasan lima pos. Setiap pos mewakili satu nilai kemerdekaan dan satu kompetensi keahlian sekolah. Peserta lari membawa mini bendera merah putih, lalu harus menyelesaikan misi sebelum estafet boleh diserahkan ke rekan satu tim.

Pos pertama menuntut siswa memindai kode QR berisi potongan teks Proklamasi, lalu menyusunnya utuh di layar tanpa salah ketik. Pos kedua, yang dikelola jurusan farmasi, meminta peserta meracik minuman herbal berwarna merah dan putih dari secang dan jahe dalam waktu terbatas, lengkap dengan label takaran. Pos ketiga dari teknik kimia industri menguji pH minuman itu agar aman diminum. Pos keempat dari desain komunikasi visual mewajibkan tim menempel poster kemerdekaan yang sudah mereka buat sendiri di papan pos. Pos terakhir adalah lari estafet mengibarkan bendera di tiang mini di garis finis.

Aturan itu membuat lomba tidak bisa dimenangkan hanya oleh siswa yang paling kencang berlari. Ketelitian, kerja sama, dan penguasaan materi jurusan sama pentingnya. Sore itu, teriakan pendukung dari empat jurusan — farmasi, kimia industri, rekayasa perangkat lunak, dan desain grafis — memenuhi halaman yang dihias umbul-umbul merah putih di depan gedung hijau khas sekolah.

Kami ingin siswa merasakan kemerdekaan sebagai kerja bersama, bukan hanya upacara. Estafet Garuda Code memaksa mereka berpikir, berlari, dan saling percaya, persis seperti yang dibutuhkan generasi vokasi, ujar Kepala Sekolah SMK Aisyiyah Palembang, Muhamad Deni, S.Pd.

Gerbang SMK Aisyiyah Palembang dengan bendera merah putih

Faris Dazqi, Aulia, dan Rizky di Podium

Tim yang dikomandoi Faris Dazqi finis dengan waktu terbaik sekaligus tanpa penalti di pos QR dan pos farmasi. Faris, siswa RPL yang sehari-hari akrab dengan laboratorium komputer, terlihat tenang saat merekan satu tim keliru memindai kode. Ia mengulang pemindaian, memperbaiki urutan teks proklamasi, lalu berlari kencang ke pos berikutnya. Saat bendera mini dikibarkan di garis akhir, halaman sekolah pecah oleh tepuk tangan.

Juara 2 diraih Aulia Putri Ramadhani. Siswi farmasi itu unggul di pos meracik herbal dan hampir menyalip di pos terakhir, namun kalah tipis di akumulasi waktu. Juara 3, Muhammad Rizky Pratama dari teknik kimia industri, menonjol di uji pH dan tetap merampungkan seluruh pos tanpa gagal. Ketiga nama itu kemudian naik podium di depan gerbang hijau sekolah, berlatar papan nama kuning SMK Aisyiyah Palembang, sambil menerima piala, sertifikat, dan paket alat praktik dari koperasi sekolah.

Selain Estafet Garuda Code, panitia juga menggelar Lomba Tandu Cepat Pertolongan Pertama bertema kemerdekaan, di mana peserta harus mengevakuasi boneka pasien melewati rintangan sambil menjaga infus tetesan tetap mengalir. Ada pula Lomba Fashion Daur Ulang Merah Putih dari kain perca dan kardus bekas, serta tarik tambang antar jurusan yang disaksikan guru dan orang tua di tepi lapangan. Fashion daur ulang dimenangkan kelas DKV, sedangkan tarik tambang direbut barisan kimia industri.

Suasana semakin meriah karena banyak siswa memakai pita merah putih di lengan seragam. Beberapa guru memakai pengikat kepala bertuliskan 17-an. Kantin sekolah menjual es cincau, tekwan, dan pempek mini dengan harga khusus hari lomba. Orang tua yang datang dari berbagai sudut Palembang, termasuk dari area KM 7,5 dan Alang-Alang Lebar, berdiri di bawah tenda darurat sambil merekam putra-putrinya.

Upacara dan Pesan untuk Generasi Vokasi

Sehari setelah lomba, pada Senin 17 Agustus 2026, sekolah menggelar upacara bendera. Petugas pasukan pengibar bendera berasal dari OSIS dan Pramuka. Dalam amanat upacara, kepala sekolah mengingatkan bahwa kemerdekaan harus diisi dengan kompetensi, akhlak, dan keberanian mencoba hal baru. Ia menyinggung juara Estafet Garuda Code sebagai contoh bahwa siswa SMK Aisyiyah Palembang mampu memadukan tradisi 17-an dengan keahlian abad ini.

SMK Aisyiyah Palembang, yang berdiri di bawah naungan amal usaha Aisyiyah dan Muhammadiyah Sumatera Selatan, selama ini dikenal lewat jurusan farmasi, teknik kimia industri, rekayasa perangkat lunak, dan desain komunikasi visual. Laboratorium industri 4.0 di kampus itu bahkan sempat menjadi pembicaraan sebagai salah satu fasilitas praktik modern di Kota Palembang. Pekan 17-an tahun ini memakai fasilitas itu bukan untuk pamer alat, melainkan untuk membuat lomba terasa dekat dengan dunia kerja siswa.

Faris Dazqi, saat diminta komentar singkat di tepi podium, mengatakan lomba itu lebih menegangkan daripada ujian praktik semester. Ia mengaku sempat gugup di pos QR, tetapi temannya terus berteriak menyemangati dari garis. Aulia Putri Ramadhani menambahkan, pos farmasi membuatnya teringat praktikum racikan, hanya saja kali ini harus dikerjakan sambil terengah-engah. Muhammad Rizky Pratama tertawa ketika ditanya soal juara 3: yang penting timnya tidak menumpahkan sampel di pos pH, katanya.

Panitia berencana menjadikan Estafet Garuda Code agenda tetap setiap Agustus. OSIS akan merapikan soal QR, standar racikan herbal, dan rute tandu agar lebih aman. Sekolah juga membuka kesempatan bagi alumni dan dunia usaha di sekitar Palembang untuk mensponsori hadiah tahun depan, asalkan tidak menggeser semangat kemerdekaan menjadi sekadar hiburan.

Menjelang sore, umbul-umbul masih berkibar di depan gedung hijau. Halaman yang tadi penuh debu dan tepuk tangan kembali tenang. Piala juara 1 di tangan Faris Dazqi, juara 2 di tangan Aulia Putri Ramadhani, dan juara 3 di tangan Muhammad Rizky Pratama menjadi tanda bahwa HUT ke-81 Republik Indonesia di SMK Aisyiyah Palembang tidak hanya diisi upacara, tetapi juga kerja sama, ketangkasan, dan keceriaan yang pantas dikenang.

Sumber: Liputan lapangan di SMK Aisyiyah Palembang, Jalan Kolonel H. Burlian No. 1032 KM 7,5 Palembang — berita ditulis redaksi.